Potret Industri IT di Indonesia : Industri musik digital

Industri musik Indonesia sedang ambruk. Demikian tajuk yang diulas di majalah musik Rolling Stones edisi Indonesia bulan Juli silam. Merosotnya nilai penjualan ini disebabkan beberapa alasan, antara lain maraknya pembajakan yang terjadi terhadap CD yang diluncurkan artis-artis Indonesia. Hal ini membawa tudingan negatif terhadap bentuk musik digital yang sudah membudaya di kalangan generasi muda Indonesia.

Teknologi digital audio telah memberikan kesempatan pada musik untuk lebih mudah diakses untuk banyak orang, dengan sinyal diperlakukan sebagai digital media. Compact disk sendiri merupakan produk komersial dari teknologi musik digital, dimulai 20 tahun lalu. Evolusi terjadi semenjak itu menghasilkan perubahan format dan menyebabkan user mampu memanipulasi ukuran dari file audio digital ke bentuk yang lebih kecil.

Dasar teknologi ini adalah beberapa teori : elektronik digital dan teknologi komputer, teori digital signal processing, dan modeling auditory. Melalui evolusinya, audio digital menjadi bagian dari budaya sehari-hari tak hanya bagi pelaku musik tapi juga penikmat musik awam. Evolusi ini mencakup format, storage (penyimpanan), transmisi, dan reproduksi dari sinyal audio yang menghasilkan pula produk-produk industri seperti compact disk MP3 player, iPod dan lainnya.

Dengan berkembangnya layanan yang tersedia di Internet, para penikmat musik pun menikmati beberapa layanan penyedia musik online, seperti Napster, yang menimbulkan kegusaran di kalangan industri musik rekaman. Tahun 2000, Asosiasi Industri Rekaman Amerika (RIAA) melancarkan tuntutan hukum terhadap Napster yang dengan tuduhan menyalahi copyright dari artis dan perusahaan rekaman. Akankah hal ini juga terjadi di Indonesia?

Gelombang selanjutnya ditandai dengan munculnya penjualan musik digital secara eceran, Apple dengan iTunesnya menjual lagu online dengan bandrol 99 sen perlagu. Untuk Indonesia, publisher iTunes resmi adalah EquinoxDMD, dengan deretan sekitar 160 artis lokal (major label maupun indie). Equinox mensupport para pemusik indie untuk menjual karya mereka yang belum bisa tembus di bisnis label utama agar mencoba jalur alternatif yaitu toko musik digital.

Podcast adalah serial dari file audio digital yang didistribusikan di internet menggunakan syndicated feed, awalnya diperuntukkan untuk iPod. Keistimewaan dari podcast adalah kemampuannya untuk otomatis ditransfer ke media pemutar digital setelah diunduh dan dengan carai sindikasi, subkripsi maupun pengunduhan otomatis saat ada konten baru, dengan menggunakan agregator atau feed reader yg membaca format RSS atau Atom.

Agak mengejutkan bahwa popularitas podcast di Indonesia bisa dibilang rendah. Adaptasi dari podcasting tidak secepat yang terjadi untuk aplikasi-aplikasi web 2.0 lain misalnya. Data dari beberapa portal podcasting seperti podcastdirectory.com dan podfeed.net menunjukkan jumlah yang sangat minim untuk podcast dalam bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan budaya podcasting belum diadopsi oleh netter Indonesia.

Fenomena lain yang cukup spesifik dari Indonesia adalah populernya layanan Ring Back Tone (RBT). Menanggapi popularitas musik digital yang menggantikan kaset dan CD, para artis alih-alih meluncurkan album, mengeluarkan single lagu mereka hanya dalam bentuk RBT yang bisa diunduh melalui masing-masing operator selular yang bekerja sama dengan third party yaitu mobile content provider.

Kesimpulan dari pengamatan dan riset singkat tentang industri musik digital di tanah air. 1. Perlu ada kesinambungan antara pengembangan perangkat hukum yang selaras dengan perkembangan teknologi digital, agar tidak menimbulkan sengketa hukum antara pelaku bisnis konvensional dan pengguna media baru

2. Para artis dan industri musik harus mulai merangkul teknologi digital, dan bukan bersikap protektif yang berlebihan terhadap teknologi ini. Pengadopsian teknologi digital pada industri musik, seperti misalnya sudah dilakukan beberapa toko musik digital di Indonesia, harus pula didukung oleh kepercayaan artis untuk me-release karya seni mereka melalui toko-toko ini

3. Para audio engineers akan terus mengembangkan teknologi ini sehingga bisa dipastikan dalam beberapa tahun lagi akan terjadi evolusi lagi yang mungkin akan merubah perilaku distribusi dan penjualan musik. Untuk itu, industri musik Indonesia harus bersiap menyikapinya.

Satu Tanggapan to “Potret Industri IT di Indonesia : Industri musik digital”

  1. Nanang Says:

    Industri musik digital, sangat menjanjikan🙂.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: